Oleh Dr. Frans Dione, M.Si · Widya Bakti Nusa
Belum ada ulasan
Buku ini lahir dari kegelisahan sederhana: sejarah Bengkulu masih belum memperoleh tempat yang memadai dalam penulisan sejarah Indonesia. Dalam berbagai buku sejarah nasional, Bengkulu sering kali hanya disebut secara singkat sebagai tempat berdirinya Fort Marlborough, wilayah tempat Thomas Stamford Raffles pernah bertugas, atau daerah yang diserahkan Inggris kepada Belanda berdasarkan Traktat London 1824. Padahal, jauh sebelum itu, Bengkulu telah menjadi ruang pertemuan antara kerajaan-kerajaan lokal, masyarakat adat, pedagang Nusantara, penguasa regional, dan kekuatan kolonial Eropa. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui bahwa Bengkulu pernah berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Inggris selama sekitar 139 tahun, sejak kedatangan East India Company pada 1685 hingga proses penyerahan wilayah tersebut kepada Belanda pada 1824–1825. Rentang waktu yang panjang itu bukan sekadar catatan pergantian kekuasaan kolonial. Di dalamnya terdapat dinamika perdagangan lada, pembangunan benteng, pembentukan pemerintahan, perjanjian dengan penguasa lokal, persaingan antarkekuatan politik, perubahan kedudukan para kepala adat, praktik monopoli, perbudakan, kerja paksa, perlawanan masyarakat, serta berbagai bentuk negosiasi antara kepentingan Inggris dan tatanan lokal Bengkulu.
Pesan Buku Versi Cetak
Stok tersedia
Silakan Masuk atau Daftar Gratis untuk membaca online atau membeli buku fisik.